Cegah Lahan Kritis, Pantura Subang Jadi Model Pengembangan Pesisir Terpadu

BANDUNG, KOMPAS — Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri bersama sejumlah pihak mengembangkan Desa Mayangan dan sekitarnya di Kabupaten Subang, Jawa Barat, sebagai model pesisir terpadu. Selain menanam dan merawat pohon mangrove, kolaborasi itu juga bakal menjadi tempat edukasi, budidaya, hingga wisata.

Hal itu terungkap dalam pembukaan diskusi grup terarah bertema ”Restorasi Ekosistem Mangrove di Pesisir Utara, Desa Mayangan Kabupaten Subang”, di Bandung, Jawa Barat, dan via daring, Selasa (21/6/2022). Kegiatan dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup itu digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar, Wanadri, hingga Migas Hulu Jabar.

Ketua Yayasan Wanadri, Tri Wahyu Murni, mengatakan, Desa Mayangan menjadi lokasi latihan anggota Wanadri. Namun, bertahun-tahun di sana, pihaknya menemukan ratusan hektar mangrove di Subang hilang tergerus hingga 1,5 kilometer. Selain merusak tambak nelayan, lahan mangrove yang kritis juga memicu banjir rob dan merendam permukiman warga.

Oleh karena itu, pihaknya berupaya merestorasi lahan mangrove seluas 192 hektar yang dikelola Perhutani di Desa Mayangan, Legon Wetan, dan Tegalurung.

”Selain restorasi berkelanjutan, kami juga ingin Mayangan jadi model restorasi terintegrasi. Misalnya, ada eco-tourism (pariwisata berawasan lingkungan), kampus alam, dan lainnya,” katanya.

Program pengembangan pesisir terpadu itu berupa penanaman dan perawatan mangrove di lahan 192 hektar hingga pembangunan trek wisata mangrove.

Seluas 11 hektar lahan di antaranya yang terendam rob juga rencananya dapat digunakan untuk penyediaan air bersih, pembuatan solar panel terapung dan keramba jaring apung, serta rumah (bascecamp) adaptasi rob.

Program tersebut rencananya berlangsung hingga 2026 dengan target 10.000 hingga 50.000 bibit mangrove per tahun. Budidaya udang dan bandeng juga bakal melibatkan petambak setempat. Studi kelayakan pun dilakukan. Rencana itu membutuhkan pembiayaan sekitar Rp 7,1 miliar.

”Kami tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga merawatnya,” ujarnya.

Kondisi rusak

Kepala DLH Jabar Prima Mayaningtias mendukung program pengembangan pesisir terpadu di Desa Mayangan. Terlebih lagi, sekitar 7.000 hektar lahan mangrove di Subang dalam kondisi rusak.

“Hampir 90 persen mangrove di kabupaten/kota pesisir utara dan selatan di Jabar kondisinya demikian. Padahal, mangrove ini sebagai sabuk hijau,” ungkapnya.

Mangrove juga dapat menjaga lingkungan sebagai mitigasi bencana. Menurut dia, indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) di Jabar tercatat 62,68 poin atau kriteria sedang.

Angka ini naik 1,09 poin dari IKLH 2020, yakni 61,59 poin. Indeks tersebut diukur berdasarkan kondisi air, udara, air laut, serta tutupan lahan di provinsi dengan penduduk hampir 50 juta jiwa itu.

“Lingkungan di Jabar itu tidak baik-baik saja karena peningkatan populasi dan pembukaan ruang semakin luas. Kami dari DLH sudah menyampaikan beberapa rekomendasi teknis. Tapi, terkadang, penduduk yang cukup tinggi, kepentingan meningkat. Jadi ini (rekomendasi) terabaikan,” ujar Prima. Pihaknya mengajak berbagai pihak menjaga lingkungan Jabar.

Tinggalkan Balasan